Lokasi pemotretan di waktu istirahat cukup penuh hiruk pikuk suara orang saling bercengkrama. Ian, tentunya bukan bagian dari riuh tersebut. Ia hanya duduk di sofa panjang sendirian, memandangi layar kunci ponselnya.
Layar kunci yang penuh akan notifikasi dari kekasihnya. Telinganya sedikit berdenging, pandangannya mulai kosong. Entah apa yang sedang ia rasakan, ia sendiri pun tak tau. Yang pasti ia rasakan adalah rasa mual yang makin lama semakin naik.
Ia sangat ingin pergi dari lokasi, namun ia juga tak ingin kunjung pulang. Ia tidak ingin segera menghadapi kekasihnya yang entah sedang diselimuti berapa jenis amarah. Maka yang satu-satunya yang bisa dilakukan sekarang hanyalah diam, duduk merapatkan kaki, menggenggam ponselnya erat-erat, dan memejamkan mata.
Ia memeluk dirinya sendiri dengan satu lengan. Ia mulai merasa malu dengan pakaiannya saat ini. Ia merasa, sepertinya benar kalau ia tidak cocok menggunakan baju ini.
Ah, kepalanya mulai berisik lagi. Ia sudah tidak bisa mendengarkan riuh dari luar.
“Hei… kam..- ngga pa-...?”
Suara seseorang terdengar gaung namun juga samar secara bersamaan. Ian membuka matanya perlahan, mendongak ke sumber suara. Matanya menemukan sesosok lelaki yang tengah mengulurkan botol air mineral kepadanya sembari memiringkan kepalanya. Ian mengenali wajah tersebut. Fotografer yang memotret dirinya dan model-model lainnya sejak siang tadi. Terlihat pula raut wajahnya yang khawatir akan dirinya.
“Kamu ngga papa? Saya lihat dari tadi kamu nunduk, saya kira kamu pingsan duduk- maksudnya pingsan tapi posisi duduk…”
Ian hanya terkekeh lemas. “Saya ngga papa… mau duduk di sini?”, lirih Ian.
Laki-laki itu tidak menjawab, namun dengan pelan ia mendudukkan dirinya pada sofa. Ia tidak mengucapkan apa apa, namun tangannya masih mengulurkan botol air mineral tersebut. Ian memandangnya lembut. Gestur dan wajah canggung laki-laki itu tampak manis untuknya.
“Makasih, ya?”, ucap Ian seraya mengambil air yang sedari tadi ditawarkan. Ia tidak punya energi sama sekali, namun Ian tetaplah Ian yang selalu memberikan senyum lembut kepada siapapun.
Laki-laki itu hanya tersenyum kecil, mengangguk, sedikit menunduk malu-malu. “Kamu sakit? Sesi foto masih ada satu kali lagi, tapi kalau kamu ngga kuat ngga perlu dipaksakan ikut. Foto kamu tadi juga udah cukup banyak yang bagus.”
“Ngga, saya kuat-kuat aja kok, saya ngga sakit.”, Ian berusaha memberikan senyum yang lebih ramah lagi, guna menunjukkan bahwa ia masih dapat melakukan pekerjaannya. Sepertinya itu energi trakhirnya yang tersisa. Namun dengan itu Ian berhasil membuat laki-laki itu ikut tersenyum.
Terdengar sebuah suara notifikasi. Dengan sedikit panik, Ian mengecek layar kuncinya. Tidak ada notifikasi terbaru dari siapapun. Masih hanya notifikasi 20 menit lalu dari Hariyo.
“Notif saya.”, Ujar laki-laki itu sembari menunjukkan layar kuncinya kepada Ian. Tentu masih dengan senyum kikuknya yang khas. Sepertinya ia memang benar-benar orang yang pemalu. Ia lanjut membalas pesan teks yang didapatnya.